Menjaga Nikmat dari Hasad.
Di era media sosial, banyak orang merasa perlu membagikan setiap kebahagiaan: rumah baru, bisnis baru, pencapaian pribadi, perjalanan, hingga hal-hal kecil dalam hidup.
Namun semakin banyak pengalaman hidup yang kita lalui, semakin kita paham bahwa tidak semua kebahagiaan cocok untuk dipamerkan.
Ada nikmat yang harus disyukuri,
tapi tidak semuanya harus diumumkan.
Itulah bentuk menjaga nikmat dari hasad, sekaligus menjaga diri dari hati-hati yang tidak suka melihat kita bahagia.
Tidak Semua Orang Senang Melihat Kita Senang
Fakta yang sering terlambat disadari:
-
Tidak semua orang mampu menahan rasa iri.
-
Ada yang tersenyum, tapi hatinya perih.
-
Ada yang memuji, tapi lisannya getir.
-
Ada yang menanyakan kabar, tapi niatnya ingin menakar hidup kita.
Bahkan orang yang cukup dekat pun bisa menunjukkan tanda-tanda hasad tanpa mereka sadari:
-
komentar sinis,
-
wajah yang berubah saat kita bercerita,
-
atau respon datar ketika kita bahagia.
Pengalaman-pengalaman seperti ini membuat banyak orang akhirnya sadar bahwa kebahagiaan paling aman adalah yang hanya diketahui oleh orang-orang terdekat yang tulus.
Nikmat yang Ditampakkan Mudah Mengundang Hasad
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Mintalah pertolongan dalam memenuhi kebutuhan dengan menyembunyikannya,
karena setiap orang yang diberi nikmat pasti ada yang hasad kepadanya.”
(HR. Thabrani – dinilai hasan oleh sebagian ulama)
Kalimat ini mengandung hikmah besar:
✔ Menyembunyikan nikmat = menjaga keberkahan
✔ Tidak semua orang kuat melihat kebahagiaan orang lain
✔ Menjaga privasi = menjaga diri dari mata dan hati yang salah

Bukan berarti kita pelit kebahagiaan,
tapi kita sedang menjaga ketenangan jiwa.
Pengalaman Hidup Mengajarkan: Lebih Baik Menyimpan, Bukan Memamerkan
Setelah beberapa peristiwa dalam hidup: komentar pedas orang, celetukan sinis, salah paham, atau sikap yang menunjukkan iri kita mulai sadar bahwa:
-
Kebahagiaan pribadi bukan konsumsi publik
-
Privasi adalah pertahanan diri
-
Dunia tidak perlu tahu semua nikmat yang Allah beri
-
Beberapa orang tidak bahagia jika kita bahagia
-
Menjaga nikmat lebih tenang daripada memamerkannya
Ada momen ketika seseorang berkata:
“Rumahnya besar ya…”
atau
“Enak ya hidupnya sekarang…”
Lalu nada suara berubah, ekspresinya berbeda, ujung kalimatnya getir.
Itulah tanda bahwa tidak semua orang siap menerima nikmat kita.
Media Sosial Memperburuk Hasad Tanpa Sadar
Dulu orang hasad secara langsung.
Sekarang cukup swipe layar, sudah muncul perbandingan, iri, atau penilaian.
Karena itu, menyembunyikan nikmat bukan berarti anti sosial.
Justru itu bentuk self-protection.
Beberapa alasan syar’i dan psikologis:
-
meminimalkan penyakit hati orang lain
-
menjaga kesucian niat agar tidak riya’
-
menghindari drama & komentar
-
tidak memancing ain (mata jahat)
-
menjaga mental dan privasi keluarga
Orang yang hidupnya benar-benar bahagia bahkan tidak merasa perlu memamerkannya.
Nikmati Nikmat Dalam Diam, Syukuri Dalam Doa
Syukur itu antara kita dan Allah.
Tidak harus ditunjukkan ke publik.
Syukur yang paling murni:
-
sujud syukur
-
sedekah
-
mendoakan kebaikan orang lain
-
menjaga lisan
-
menjaga hati
-
menikmati nikmat tanpa pamer
Orang-orang paling harmonis seringnya justru yang paling “biasa-biasa saja” di media sosial.
Mereka menikmati hidup,
bukan memamerkan hidup.
Semakin Dewasa, Semakin Kita Ingin Tenang, Bukan Viral
Dulu ingin terlihat.
Sekarang ingin tenang.
Dulu update apa pun.
Sekarang memilih privasi.
Dulu membagikan kebahagiaan.
Sekarang memilih menyimpannya.
Karena semakin banyak pengalaman, semakin paham bahwa:
Bahagia itu sederhana: dinikmati, bukan dipertontonkan.
Tidak semua mata senang melihat nikmat.
Tidak semua telinga ingin mendengar kabar baik kita.
Tidak semua hati bersih dari penyakit hasad.
Dan yang terpenting:
Tidak semua kebahagiaan cocok di luar, sebagian justru lebih berkah ketika hanya kita dan Allah yang tahu.
Menyembunyikan Nikmat Adalah Bentuk Syukur dan Perlindungan Hati
Menutup sebagian nikmat bukan berarti sombong.
Bukan pelit.
Bukan berlebihan.
Itu adalah:
-
bentuk syukur,
-
bentuk menjaga keberkahan,
-
bentuk perlindungan diri,
-
bentuk meminimalkan hasad,
-
bentuk menjaga ketenangan pribadi dan keluarga.
Kita tidak bisa mengontrol hati orang lain,
tapi kita bisa mengatur apa yang ingin kita bagi kepada dunia.
Dan terkadang, nikmat paling indah adalah yang cukup kita rasakan tanpa harus diumumkan. Barakallahu fiikum.





