Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak lepas dari interaksi, kerja sama, dan hubungan sosial. Setiap hari ada saja kesempatan untuk berbuat baik. Menolong orang lain, mentraktir, membantu pekerjaan, memberi perhatian, mengucapkan kalimat yang menenangkan, atau sekadar menawarkan bantuan kecil. Namun sering kali kebaikan itu tidak selalu direspons sebagaimana yang kita harapkan.
Tidak jarang, setelah berbuat baik, kita tidak menerima ucapan “terima kasih”, “jazakallahu khairan”, atau bentuk penghargaan kecil apa pun. Bahkan, ada kalanya orang menganggap kebaikan itu sesuatu yang biasa, seakan itu memang kewajiban kita.
Muncullah pertanyaan dalam hati:
Apakah aku harus berhenti berbuat baik karena tidak dihargai?
Apakah aku harus kecewa ketika orang diam saja setelah menerima kebaikan?
Jawabannya: Tidak.
Justru pada momen seperti itu nilai keikhlasan diuji, diperkuat, dan ditinggikan oleh Allah.
Makna Sejati dari Berbuat Baik dalam Islam
Berbuat baik dalam Islam bukan hanya tentang amal besar seperti sedekah jutaan rupiah, membangun masjid, atau menolong orang yang kesusahan berat. Kebaikan itu sangat luas.
Kebaikan mencakup hal-hal kecil yang kadang tidak dianggap apa-apa oleh manusia, tetapi punya nilai besar di sisi Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apa pun, meskipun hanya bertemu saudaramu dengan wajah berseri.”
(HR. Muslim – shahih)
Hadis ini menunjukkan bahwa: senyuman, kata yang menenangkan, salam, perhatian, menyingkirkan duri dari jalan, membantu membawa barang, memberikan minuman, mempermudah urusan orang lain, semuanya adalah amal shalih yang Allah cintai.
Allah berfirman:
“…Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Al-Baqarah: 195)
Artinya, selama kita melakukannya dengan ikhlas, tanpa mengharap balasan manusia, maka kebaikan itu dicintai oleh Allah dan itulah balasan terbesar.
Berbuat Baik Tanpa Menunggu Balasan Manusia
Salah satu tanda kemuliaan hati adalah ketika seseorang berbuat baik tanpa menunggu ucapan terima kasih, pujian, atau balasan dari manusia.
Mengapa? Karena manusia bukan sumber pahala.
Pahala datang dari Allah, satu-satunya yang tidak pernah lupa, tidak pernah mengabaikan, dan tidak pernah menzhalimi.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Al-Kahfi: 30)
Ayat ini adalah jaminan. Jika manusia mengabaikan kebaikan kita, Allah tidak akan mengabaikannya.
Kadang manusia memang lupa.
Kadang mereka tidak peka.
Kadang dianggap biasa.
Kadang tidak tahu cara mengekspresikannya.
Tetapi Allah tidak demikian.
Setiap niat baik dan amal kecil tercatat rapi di sisi-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak menzhalimi seorang pun walau sebesar dzarrah (atom).”
(HR. Muslim – shahih)
Artinya, tidak ada satu pun kebaikan yang hilang, meskipun manusia lupa berterima kasih.
Ketika Tidak Dihargai, Itulah Ujian Keikhlasan
Sering kali yang membuat seseorang terluka bukan karena dia lelah memberi, tetapi karena merasa tidak dihargai. Namun sebenarnya, itu adalah ujian spiritual.
Allah ingin melihat:
Apakah kamu memberi karena manusia atau karena Allah?
Jika karena Allah, maka kekecewaan akan digantikan ketenangan.
Jika karena manusia, maka kamu akan terus merasa kurang dihargai.
Para ulama berkata:
“Ikhlas itu ketika pujian dan celaan manusia menjadi sama saja.”
Bukan berarti kita tidak peduli tetapi hati kita tidak bergantung pada respon manusia.
Bahkan para sahabat pun pernah mengalami hal ini. Ada yang berbuat baik tetapi tidak dihargai. Tetapi mereka tetap memberi karena mereka memahami bahwa balasan Allah jauh lebih besar daripada ucapan manusia.
Tetapi… Berterima Kasih itu Wajib Adab dan Bentuk Syukur
Meskipun kita sebagai pemberi diajarkan untuk tidak menuntut ucapan terima kasih, Islam tetap mewajibkan penerima kebaikan untuk berterima kasih.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak bersyukur kepada Allah, orang yang tidak berterima kasih kepada manusia.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi – hasan shahih)
Hadis ini sangat penting.
Ia menjelaskan bahwa: mengucapkan terima kasih adalah ibadah, bukan hanya sopan santun, bukti bahwa hati kita penuh syukur, dan bentuk pengakuan bahwa Allah menolong kita melalui manusia.
Orang yang tidak terbiasa berterima kasih kepada manusia, berarti tidak terbiasa bersyukur kepada Allah.
Maka ucapan terima kasih sekecil apa pun kebaikan adalah bagian dari aqidah seorang Muslim.
Keindahan Doa “Jazakallahu Khairan”
Dalam Islam, ucapan terima kasih paling mulia adalah:
جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا
Jazakallāhu khayran
“Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.”
Ucapan ini bukan sekadar pujian.
Ini adalah doa yang sangat tinggi nilainya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang dikatakan kepadanya ‘Jazakallahu khairan’, maka sungguh ia telah mendapatkan pujian yang paling sempurna.”
(HR. Tirmidzi – hasan)
Kata “khairan” berarti: kebaikan yang sempurna, balasan yang tidak terbatas, kebaikan dunia dan akhirat, keberkahan dalam hidup. Inilah bentuk terima kasih yang diajarkan Nabi.
1. Untuk laki-laki (tunggal)
جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا
Jazākallāhu khayran
2. Untuk perempuan (tunggal)
جَزَاكِ اللَّهُ خَيْرًا
Jazākillāhu khayran
3. Untuk banyak orang (jamak)
جَزَاكُمُ اللَّهُ خَيْرًا
Jazākumullāhu khayran
4. Untuk membalas doa seseorang
وَجَزَاكُمُ اللَّهُ خَيْرًا
Wa jazākumullāhu khayran
“Dan semoga Allah juga membalas kalian dengan kebaikan.”
Ucapan ini sangat indah untuk budaya kerja, lingkungan rumah, dan komunitas sosial.
Dua Sisi Hikmah: Ikhlas Memberi & Ringan Bersyukur
Dalam Islam, ada dua sisi adab penting:
1. Adab Pemberi: Ikhlas Tanpa Pamrih
-
Berbuat baik karena Allah
-
Tidak menuntut penghargaan
-
Tidak menunggu balasan
-
Tidak jatuh kecewa ketika manusia diam
-
Menguatkan hati dengan doa untuk orang yang dibantu
Orang yang memberi dengan ikhlas akan merasakan ketenangan yang besar.
2. Adab Penerima: Ringan Berterima Kasih
-
Mengucapkan terima kasih walau kecil
-
Membalas dengan doa jika tak mampu membalas materi
-
Tidak meremehkan kebaikan kecil
-
Mengakui bahwa Allah mengirim kebaikan lewat sesama manusia
-
Membalas kebaikan dengan ucapan “Jazakallahu khairan”
Dua adab ini membentuk masyarakat yang berakhlak mulia.
Kebaikan Itu Menular dan Mengubah Lingkungan
Seperti senyuman, kebaikan itu menular.
Jika seseorang mudah mengucapkan terima kasih, orang lain pun terdorong melakukan hal yang sama.
Jika seseorang mudah memberi dengan ikhlas, lingkungan akan dipenuhi suasana kasih sayang.
Lingkungan yang baik itu tidak tercipta dari ceramah panjang, tetapi dari: teladan, kebiasaan, perilaku kecil sehari-hari, doa, hati yang lembut. Satu kebaikan bisa menghidupkan banyak hati.
Jadikan Kebaikan Sebagai Gaya Hidup
Hidup ini terlalu singkat untuk berhenti berbuat baik hanya karena tidak dihargai.
Lakukan kebaikan karena Allah.
Tersenyumlah karena Allah.
Maafkan karena Allah.
Tolonglah karena Allah.
Dan ketika menerima kebaikan,
ringankanlah lisan dengan ucapan:
“Terima kasih.”
“Jazakallahu khairan.”
“Barakallahu fiik.”
Inilah dua sayap kehidupan seorang Muslim:
ikhlas dalam memberi, dan ringan dalam bersyukur.
“Tidak ada kebaikan yang kecil jika dilakukan dengan ikhlas.
Dan tidak ada ucapan terima kasih yang sia-sia jika diucapkan dengan hati.”
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang memberi tanpa pamrih, dan bersyukur tanpa menunda. 🤍 Barakallahu Fiikum…






