Dalam Islam, harta bukan hanya alat memenuhi kebutuhan dunia, tetapi juga berpengaruh besar terhadap kebersihan hati dan keselamatan akhirat. Dalam tabligh akbar ini, Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. menegaskan bahwa harta haram memiliki dampak buruk yang sangat dalam terhadap kehidupan seorang Muslim, terutama dalam urusan hati dan hubungan dengan Allah.
Table of Contents
ToggleSebab Seseorang Terjerumus dalam Harta Haram
-
Kurangnya Rasa Takut dan Malu kepada Allah
Rasa takut kepada Allah adalah sumber kekuatan yang menjaga kita agar tetap dalam ketaatan, baik dalam keadaan sendiri maupun bersama orang lain.
Seseorang yang benar-benar takut kepada Allah akan menjauhi maksiat meski tak ada satu pun manusia yang melihatnya, karena ia sadar bahwa Allah Maha Mengawasi.
Jangan sampai rasa takut kita lebih besar kepada pengawasan manusia dibanding pengawasan Allah. Jangan sampai pandangan manusia dianggap lebih agung daripada penglihatan Allah yang tiada terhalang.
Begitu pula dengan rasa malu. Orang yang malu kepada Allah, ia tidak akan berani memaksiati-Nya. Bila rasa malu itu hilang, maka ia akan berani melakukan apa pun tanpa batas. Rasa malu kepada Allah harus senantiasa ditumbuhkan dan ditingkatkan. Malulah kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu: jagalah kepalamu, yakni pikiranmu; dan jagalah perutmu, yakni apa yang kamu masukkan ke dalamnya.
Termasuk pula menjaga pandangan, terlebih di zaman sekarang di mana maksiat sangat mudah diakses melalui perangkat seperti handphone. Jangan sampai kemudahan akses maksiat menjauhkan kita dari Allah.
Ingatlah, Allah pasti akan menguji setiap hambaNya, untuk mengetahui siapa yang benar-benar takut kepadaNya. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
“Bertakwalah kepada Allah di manapun kamu berada, meskipun dalam keadaan sendirian.”
-
Tamak terhadap Dunia dan Harta
Terlalu berambisi mengumpulkan harta bisa membahayakan agama. Orang yang tamak tidak lagi peduli apakah harta itu halal atau haram. Bahkan, orang semacam ini lebih berbahaya dari serigala yang lapar ia menutup mata terhadap kebenaran demi dunia.
Hakikat dunia adalah sesuatu yang hina. Harta, anak, dan seluruh kenikmatan dunia hanyalah sumber hisab di akhirat. Orang yang hatinya dipenuhi cinta dunia tak akan pernah puas. Ia akan semakin tamak, sombong, dan rakus. semua itu menjauhkannya dari Allah.
-
Kebodohan Terhadap Bahaya Harta Haram
Salah satu penyebab seseorang terjerumus dalam harta haram adalah kebodohan terhadap syariat.
Kebodohan ini sangat berbahaya jika tidak dibarengi dengan semangat menuntut ilmu. Jangan pernah ridha dalam keadaan tidak tahu. Kebodohan adalah musuh yang nyata bagi diri kita sendiri. Maka dari itu, teruslah belajar dan hadir dalam majelis ilmu.
-
Sedikitnya Sifat Wara’ (Kehati-hatian dalam Hal Haram dan Syubhat)
Wara’ adalah sikap berhati-hati dalam segala hal yang bisa membahayakan akhirat kita.
Orang yang memiliki sifat wara’ akan menjauhi yang haram maupun yang samar (syubhat), karena ia sadar bahwa keselamatan akhirat jauh lebih penting daripada keuntungan dunia sesaat.
Bahaya Makanan Haram dalam Kehidupan Seorang Muslim
-
Dicabutnya Keberkahan
Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 276:
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah…”
Begitu pula dengan harta yang diperoleh secara haram, Allah akan mencabut keberkahannya. Meskipun harta tersebut tampak banyak, tidak ada kebaikan yang bisa dirasakan dari harta yang tidak berkah. Sebaliknya, harta yang sedikit namun halal dan diberkahi, akan mendatangkan banyak manfaat dan kebaikan.
-
Doa Tidak Dikabulkan
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Mahabaik (Thayyib), dan tidak menerima kecuali yang baik (thayyib).” (HR. Muslim)
Allah tidak menerima amalan maupun doa dari sesuatu yang bersumber dari keharaman. Jika seseorang makan dari yang haram, memakai pakaian dari hasil haram, serta menghidupi dirinya dengan harta haram, bagaimana mungkin doanya dikabulkan? Rezeki yang halal bukan hanya penting untuk kesehatan tubuh, tetapi juga menjadi syarat diterimanya ibadah dan dikabulkannya doa.
Harta Haram, Rusaknya Hati, dan Bahaya Istidraj
Pertanyaan Seorang Jamaah:
“Saya seorang pegawai bank konvensional. Namun, banyak doa saya yang dikabulkan. Apakah itu berarti pekerjaan saya tidak masalah?”
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. menjawab,
“Itu bukan pertanda kebaikan, tapi itulah yang disebut istidraj.”
Istidraj adalah ketika Allah terus memberikan kenikmatan dunia kepada seseorang yang terus-menerus bermaksiat. Bukan sebagai bentuk kasih sayang, tetapi sebagai bentuk istidraj penundaan azab. Maka hati-hatilah ketika kita merasa nyaman dalam maksiat, tetapi segala urusan dunia terasa lancar. Itu bisa jadi adalah istidraj.
Rusaknya Hati Akibat Makanan Haram
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Yang halal itu jelas, yang haram pun jelas. Di antara keduanya ada perkara syubhat (samar-samar), yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barang siapa menjaga diri dari yang syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barang siapa terjerumus dalam syubhat, ia bisa terjatuh ke dalam yang haram.” (HR. Bukhari & Muslim)
Nabi ﷺ juga mengingatkan:
“Sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusak seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati.“ (HR. Bukhari & Muslim)
Makanan halal memiliki pengaruh besar dalam menjaga hati tetap lembut dan bersih. Sebaliknya, makanan haram akan mengeraskan hati, menjauhkan dari Allah, dan membuat seseorang layak bagi neraka. Dalam Surah Al-Baqarah, Allah bahkan mengibaratkan hati yang keras seperti batu.
Satu suapan makanan haram bisa mengubah hati seseorang. Keselamatan di akhirat sangat bergantung pada kondisi hati. Jika hati kita selamat, maka insyaAllah kita pun akan selamat dari api neraka.
Dampak Mengerikan Lain dari Makanan Haram
-
Anggota tubuh condong pada maksiat, sementara amal shalih hanya bisa dikerjakan dengan hati yang bersih.
-
Maksiat menyebabkan wajah menjadi gelap, hati menjadi keras, rezeki menjadi sempit, dan manusia pun membenci pelakunya.
-
Orang yang terbiasa makan dari sumber haram, akan terlihat dari lisannya dan akhlaknya.
-
Amalan tidak diterima.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa seseorang yang disuapi makanan haram, maka amal ibadahnya tidak diterima selama 40 hari. -
Allah hanya menerima amalan dari orang yang bertakwa.
-
Terhalang dari surga.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa mengambil harta seorang Muslim tanpa hak, maka ia akan terhalang dari surga.” -
Tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak dipandang oleh-Nya, dan bagi mereka azab yang pedih:
-
Laki-laki yang mengenakan pakaian melebihi mata kaki (isbal) karena sombong.
-
Orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu.
-
Orang yang suka mengungkit-ungkit pemberiannya hingga menyakiti si penerima.
-
-
Azab kubur akibat harta haram.
Harta haram yang dikumpulkan akan menjadi penyebab azab di alam kubur.
“Semoga Allah memberikan kita rezeki yang halal dan thayyib. Semoga Allah anugerahkan kepada kita sifat wara’, dan mematikan kita dalam keadaan husnul khatimah.” Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Tabligh Akbar oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.
Masjid Jami’ Al-Barkah, Cileungsi






